Sistem Manajemen Rantai Pasokan terhadap Nilai Tambah dan Kelembagaan Biji Kakao (Theobroma Cacao L.) di Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan

Penulis

  • I Putu Agung Surya Negara Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Unud
  • I Gusti Ngurah Apriyadi Aviantara Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Unud
  • Ni Luh Yulianti Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Unud

DOI:

https://doi.org/10.24843/j.beta.2018.v06.i01.p01

Kata Kunci:

Metoda Hayami, Kakao, Manajemen rantai pasokan.

Abstrak

Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditi unggulan Provinsi Bali. Sistem
agribisnis biji kakao saat ini belum memberikan kemakmuran kepada petani skala kecil. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengetahui struktur manajeman rantai pasokan, dan kelembagaan rantai
pasokan biji kakao di Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan; dan mengetahui nilai
tambah setiap titik pasokan dan sebaran keuntungan pada petani hingga pengepul kakao di
Provinsi Bali. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama mengetahui struktur
manajemen rantai pasokan, dan kelembagaan rantai pasokan menggunakan analisis deskriptif
kualitatif, dan tahap kedua mengetahui nilai tambah setiap titik pasokan dan sebaran keuntungan
pada petani hingga pengepul kakao di Provinsi Bali menggunakan metode Hayami sebagai alat
analisisnya. Pengambilan sampel tingkat petani menggunakan teknik simple random sampling
dan pengambilan sampel di tingkat Middleman menggunakan teknik total sampling. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua pola rantai pasok biji kakao yaitu, pola I : petani
menjual ke tengkulak, tengkulak selanjutnya menjual ke pengepul kecamatan, pengepul
kecamatan selanjutnya menjual ke pengepul kabupaten, pengepul kabupaten selanjutnya menjual
ke pengepul provinsi, pengepul provinsi selanjutnya menjual ke pabrik coklat, dan pola II yaitu
: Petani menjual ke pengepul kecamatan, pengepul kecamatan selanjutnya menjual ke pengepul
kabupaten, pengepul kabupaten selanjutnya menjual ke pengepul provinsi, pengepul provinsi
selanjutnya mengirim ke pabrik coklat. Kelembagaan rantai pasokan biji kakao dalam sistem ini
termasuk pola perdagangan umum. Nilai tambah terbesar di lakukan oleh petani yaitu sebesar Rp.
12.645,31 sampai dengan Rp. 13.430,79 per kilogram dengan keuntungan sebesar 356,47 sampai
dengan Rp.1.306,96 per kilogram. Nilai tambah terkecil di lakukan oleh pengepul tingkat
kecamatan sebesar Rp. 999,93 per kilogram, dengan keuntungan yang di peroleh sebesar Rp.
732,61 per kilogram.

Referensi

Ariadi, B. Y., & Relawati, R. (2011). Sistem agribisnis terintegrasi hulu–hilir. Bandung: Muara Indah.

Dinas Perkebunan Provinsi Bali. (2016). Harga kakao di Provinsi Bali.

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2015). Statistik perkebunan Indonesia 2013–2015.

Dradjat, B., Agustian, A., & Ade, S. (2007). Ekspor dan daya saing kopi biji Indonesia di pasar internasional: Implikasi strategis bagi pengembangan kopi biji organik. Jurnal Penelitian Kopi dan Kakao.

Hayami, Y. (1987). Agricultural marketing and processing in upland Java: A perspective from Sinda Village. Bogor: Coarse Grains Pulses Roots and Tuber Center (CGPRTC).

Herawati, Rifin, A., & Tinaprilla, N. (2015). Kinerja dan efisiensi rantai pasok biji kakao di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Marimin, & Maghfiroh, N. (2010). Aplikasi teknik pengambilan keputusan dalam manajemen rantai pasok. Bogor: IPB Press.

Mochtar, & Darma. (2011). Prospek industri pengolahan kakao di Makassar: Analisis potensi kelayakan usaha. Universitas Hasanuddin.

Nursalam. (2009). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan: Pedoman skripsi, tesis, dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Sihombing, D. T., & Sumarauw, J. (2015). Analisis nilai tambah rantai pasokan beras di Desa Tatengesan, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal EMBA, 3(2), 798–805.

Singarimbun, M., & Effendi, S. (1987). Metode penelitian survei. Jakarta: LP3ES.

Sucipta, I. M. (2016). Strategi peningkatan kinerja manajemen rantai pasokan jeruk siam di Kelompok Tani Gunung Mekar Kabupaten Gianyar. Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Bali.

Unduhan

Diterbitkan

2017-11-13

Cara Mengutip

Negara, I. P. A. S., Aviantara, I. G. N. A., & Yulianti, N. L. (2017). Sistem Manajemen Rantai Pasokan terhadap Nilai Tambah dan Kelembagaan Biji Kakao (Theobroma Cacao L.) di Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan . Jurnal BETA (Biosistem Dan Teknik Pertanian), 6(1), 1–9. https://doi.org/10.24843/j.beta.2018.v06.i01.p01

Terbitan

Bagian

Articles

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

<< < 1 2 3 4 5