Pengaruh Lama Fermentasi Dan Lama Pengeringan Terhadap Karakteristik Teh Herbal Daun Bambu Tabah (Gigantochloa Nigrociliata Buse-Kurz)
DOI:
https://doi.org/10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p07Kata Kunci:
daun bambu tabah, lama fermentasi, lama pengeringan , tehAbstrak
Teh herbal merupakan teh yang terbuat dari rempah-rempah atau tanaman lain yang memiliki khasiat bagi kesehatan dan dimanfaatkan sebagai minuman yang menyehatkan maupun minuman penyegar oleh sebagian besar masyarakat.Salah satunya adalah daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) yang pengolahannya bertujuan untuk memanfaatkan senyawa-senyawa yang terkandung di dalam daun tersebut, yang nantinya akan menghasilkan karakteristik tersendiri. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruhlama fermentasi dan lama pengeringan yang berbeda terhadap karakteristik teh herbal daun bambu tabah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2020 –Oktober 2020 di Laboraturium TeknikPascpanen, PengelolaanSumber Daya Alam, Analisis Pangan, dan Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor perlakuan yaitu lama fermentasi (120, 240dan 360 menit) dan lama pengeringan (60 menit, 120 menit). Seluruh perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 18unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’sMultiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi 120 menit dengan waktu lama pengeringan 60 menit merupakan perlakuan terbaik dengan karakteristik sebagai berikut: kadar air 6,27%, pH 6,56 , total asam 1,35%, total fenol 11,00 mg GAE/g, total flavonoid 16,41 mg QE/g, hedonik warna(biasa), aroma (biasa), rasa (biasa dan agak pahit)dan penerimaan keseluruhan (agak suka).
Referensi
Adri, D., & Hersoelistyorini, W. (2013). Aktivitas antioksidan dan sifat organoleptik teh daun sirsak (Annona muricata Linn.) berdasarkan variasi lama pengeringan. Jurnal Pangan dan Gizi, 4(7), 11–16.
Andriani, M., Amanto, B. S., & Gandes. (2012). Pengaruh penambahan gula dan suhu penyajian terhadap nilai gizi minuman teh hijau (Camellia sinensis L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 5(2), 40–47.
Antara, N. S. (2011). Fermentasi pada pengolahan teh. Balai Penelitian Tanaman Industri.
Balai Penelitian Tanaman Industri. (2013). Kandungan senyawa kimia pada daun teh (Camellia sinensis). Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 19(3), 12–16.
Karori, S. M., Wachira, F. N., Wanyoko, J. K., & Ngure, R. M. (2007). Antioxidant capacity of different types of tea products. African Journal of Biotechnology, 6(19), 2287–2296.
Lagawa, I. N. C., Kencana, P. K. D., & Aviantara, I. G. N. A. (2019). Pengaruh waktu pelayuan dan suhu pengeringan terhadap karakteristik teh daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz). Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian), 8(2), 223.
Lantari, N. M. D., Kencana, P. K. D., & Yulianti, N. L. (2019). Pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap karakteristik teh herbal daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) dalam kemasan paper sack. Jurnal Biosistem dan Teknik Pertanian, 9(1), 1–12.
Lelita, D. I., Rohadi, & Putri, A. S. (2018). Sifat antioksidatif ekstrak teh (Camellia sinensis Linn.) jenis teh hijau, teh hitam, teh oolong, dan teh putih dengan pengeringan beku (freeze drying). Jurnal, 1(4), 15–30.
Mantra, I. B. K., Putra, I. N. K., & Wrasiati, L. P. (2019). Karakterisasi senyawa bioaktif ekstrak daun sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.) dari beberapa jenis pelarut. Scientific Journal of Food Technology, 6(1), 54–65.
Panggalih, A. I. (2010). Pengaruh jenis kemasan dan suhu penyimpanan terhadap umur simpan teh hijau. Skripsi, 21.
Paramita, N. L. P. V., Andari, N. P. T. W., Andani, N. M. D., & Susanti, N. M. P. (2020). Penetapan kadar fenol total dan katekin daun teh hitam serta ekstrak aseton teh hitam dari tanaman Camellia sinensis var. assamica. Jurnal Kimia, 14(1), 43.
Rahmawati, N. D. (2015). Aktivitas antioksidan dan total fenol teh herbal daun pacar air (Impatiens balsamina) dengan variasi lama fermentasi dan metode pengeringan. Jurnal, 13(3), 1576–1580.
Ramli, I. A., Jamaluddin, J. P., & Yanto, S. (2018). Laju pengeringan gabah menggunakan pengering tipe efek rumah kaca (ERK). Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian, 3, 158.
Rohdiana, D. (1999). Evaluasi kandungan theaflavin dan thearubigin pada teh kering dalam kemasan. JKTI, 9(1–2), 29–32.
Sakanaka, S., Tachibana, Y., & Okada, Y. (2003). Preparation and antioxidant properties of extracts of Japanese persimmon leaf tea (Kakinoha-cha). Food Chemistry, 89(4), 569–575.
Sari, D. K., Affandi, D. R., & Prabawa, S. (2020). Pengaruh waktu dan suhu pengeringan terhadap karakteristik teh daun tin (Ficus carica L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 12(2), 68.
Syafarina, M., Taufiqurrahman, I., & Edyson. (2017). Perbedaan total flavonoid antara tahapan pengeringan alami dan buatan pada ekstrak daun binjai (Mangifera caesia). Dentin (Jurnal Kedokteran Gigi), 1(1), 84–88.
Syafi, M., & Palupi, H. T. (2018). Pengaruh umur panen terhadap kualitas minuman sari rumput gandum (wheatgrass) varietas Guri-3 Agritan. Agromix, 9(1), 27–36.
Tanjung, R., Hamzah, F., & Efendi, R. (2016). Lama fermentasi terhadap mutu teh daun sirsak (Annona muricata L.). Jurnal, 3(2), 1–9.
Widarso, Nurcahyo, W., Prastowo, J., & Kurniasih. (2017). Potensi daun bambu sebagai agen antelmintika pada ternak kambing. Polbangtayoma, 39(2), 129–151.
Widnyana, K. (2008). Bambu dengan berbagai manfaatnya. Bumi Lestari, 8(1), 1–10.
Wirawan, I. K., Kencana, P. K. D., & Utama, I. M. S. (2019). Pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap karakteristik kimia serta sensori teh daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz). Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian), 8(2), 271.
Yuliawaty, S. T., & Susanto, W. H. (2015). Pengaruh lama pengeringan dan konsentrasi maltodekstrin terhadap karakteristik fisik kimia dan organoleptik minuman instan daun mengkudu (Morinda citrifolia L.). Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(1), 41–51.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Ketentuan Lisensi
Semua artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian) bersifat open access dan dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License (CC BY 4.0). Hal ini berarti siapa pun berhak untuk:
-
Berbagi — menyalin dan mendistribusikan kembali materi dalam bentuk atau format apa pun.
-
Adaptasi — menggubah, mengubah, dan mengembangkan materi untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial.
Namun, hak tersebut diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
-
Atribusi — Anda harus memberikan pengakuan yang sesuai, menyertakan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang wajar, tetapi tidak boleh dengan cara yang menyiratkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.
-
Tanpa pembatasan tambahan — Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau langkah teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang diizinkan oleh lisensi ini.
Dengan mengirimkan artikel ke Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian), penulis menyetujui penerbitan karya mereka di bawah lisensi akses terbuka ini. Hak cipta tetap dimiliki oleh penulis, namun penulis memberikan hak publikasi pertama kepada Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai lisensi CC BY 4.0, silakan kunjungi situs resmi: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/