Spatio-Temporal Analysis of The Conversion of Paddy Fields Tabanan Regency

Authors

  • Ida Bagus Ketut Adyaguhyatriko Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi PertanianUniversitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia
  • I Made Anom Sutrisna Wijaya Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi PertanianUniversitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia
  • Sumiyati Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi PertanianUniversitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p14

Keywords:

Tabanan Regency, Confersion Paddy Fields, Land Use, Spatial Analysis, Spatio-temporal Analysis

Abstract

Tabanan Regency is known as a rice barn in the Province of Bali, with rice fields covering 28% of its total area. According to data from the Badan Pusat Statistik (BPS), grain production in Tabanan Regency decreased by 19,181 tons between 2018 and 2022. One of the reasons for the decline in production is thought to be the conversion of paddy fields. This study aimed to determine the distribution and area of paddy field conversion and to analyze the trend of changes in paddy field function. The research stages included collecting Sentinel-2A image data, cloud masking, spatial analysis, and temporal analysis of land conversion from 2018 to 2022. Spatial analysis showed that land use consists of lakes, buildings, gardens, rice fields, and fields. Temporal analysis results indicate that paddy fields converted to buildings cover 1,209.794 ha, to gardens 1,380.275 ha, to fields 2,630.746 ha, while remaining paddy fields cover 1,687.179 ha. Land use changes from gardens to paddy fields cover 2,199.893 ha, and from fields to paddy fields 982.892 ha. It can be concluded that the largest trend in paddy field changes in Tabanan Regency from 2018 to 2022 is the conversion of paddy fields to fields, followed by gardens and buildings.

References

Akbar, K. (2022). Analisis efisiensi usahatani padi sawah pasang surut di Kelurahan Kempas Jaya, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau (Tesis, Universitas Islam Riau).

Anggraini, F., Siska Selpiyanti, & Walid, A. (2020). Dampak alih fungsi lahan terhadap degradasi lingkungan: Studi kasus lahan pertanian sawah menjadi lahan non-pertanian. Jurnal Swarnabhumi: Jurnal Geografi dan Pembelajaran Geografi, 5(2), 35–42.

Anugrah, K. F. (2005). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah ke penggunaan non-pertanian di Kabupaten Tangerang (Skripsi, Institut Pertanian Bogor).

Arsyad, S. (1989). Konservasi tanah dan air. IPB Press.

BPS Bali. (2018). Bali dalam angka 2018. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.

BPS Bali. (2022). Bali dalam angka 2022. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.

Djelantik, A. A. A. W., Wulandira Sawitri, I. M. S., & Setiawan, I. G. B. D. (2022). Alih fungsi lahan sawah dan dampaknya di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Jurnal Manajemen Agribisnis, 10(2), 904–923.

Dwiprabowo, H., Djaenudin, D., Alviya, I., & Wicaksono, D. (2014). Dinamika tutupan lahan: Pengaruh faktor sosial ekonomi. PT Kanisius.

Hidayati, H. N., & Kinseng, R. A. (2013). Konversi lahan pertanian dan sikap petani di Desa Cihideung. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 1(3), 222–230.

Miswar, D., Sugiyanta, I. G., Yarmaidi, & Yasta, R. D. (2020). Analisis geospasial perubahan penggunaan lahan sawah berbasis LP2B Kecamatan Pagelaran Utara. Media Komunikasi Geografi, 21(2), 130–143.

Muslikin, M. K. (2015). Kajian alih fungsi lahan sawah menjadi non-sawah dan dampak terhadap produksi padi di Kabupaten Blora tahun 2000–2010 (Skripsi, Universitas Negeri Semarang).

Ndawa, J. J. (2014). Dampak alih penggunaan lahan pertanian ke non-pertanian terhadap kesempatan kerja dan pendapatan rumah tangga petani di Kota Batu: Studi kasus Desa Oro-Oro Ombo (Skripsi, Universitas Brawijaya).

Ningsih, T. R. (2018). Karakteristik alih fungsi lahan dan pengaruhnya terhadap urban heat island di Caturtunggal, Kabupaten Sleman, Yogyakarta (Tesis, Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Putrawan, K. (2019). Pengetahuan dasar peta. Direktorat Pembinaan SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusno, N., Maghfirra, D., & Indarto, J. (2010). Rencana kebijakan strategis perluasan areal pertanian baru dalam rangka mendukung prioritas nasional ketahanan pangan. Direktorat Pangan dan Pertanian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Ruswandi, A., Rustiadi, E., & Mudikdjo, K. (2007). Dampak konversi lahan pertanian terhadap kesejahteraan petani dan perkembangan wilayah: Studi kasus di daerah Bandung Utara. Jurnal Agro Ekonomi, 25(2), 207–219.

Saputra, A. (2020). Pemberdayaan kelompok tani dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian di Desa Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 6(1), 29–44.

Sembiring, P., Supriana, T., & Khadijah, S. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi luas lahan sawah di Kabupaten Serdang Bedagai. Journal on Social Economic of Agriculture and Agribusiness, 4(12), 1–10.

Simanjuntak, F. (2021). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi lahan bukan sawah di Kabupaten Batu Bara (Tesis, Universitas Medan Area).

Wahyunto, M., Abidin, Z., Priyono, A., & Sunaryo. (2001). Studi perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Citarik, Jawa Barat dan DAS Kaligarang, Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Multifungsi Lahan Sawah. Balai Penelitian Tanah.

Winarso, B. (2012). Dinamika pola penguasaan lahan sawah di wilayah pedesaan di Indonesia. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 12(3), 137–149.

Published

2024-04-30

How to Cite

Adyaguhyatriko, I. B. K., Wijaya, I. M. A. S., & Sumiyati. (2024). Spatio-Temporal Analysis of The Conversion of Paddy Fields Tabanan Regency. Jurnal BETA (Biosistem Dan Teknik Pertanian), 12(1), 128–133. https://doi.org/10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p14

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 5 6 > >>