Penilaian Aspek Palemahan Sebagai Salah Satu Aspek Evaluasi Kinerja Sistem Irigasi Subak
DOI:
https://doi.org/10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p05Kata Kunci:
Aspek Palemahan, Kondisi Eksisting, Skor Evaluasi, SubakAbstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksisting dari aspek palemahan. Lokasi penelitian di Subak Meliling, Subak Sungsang dan Subak Gadungan di Kabupaten Tabanan; Subak Bugbug, Subak Tohpati dan Subak Selat berada di Kabupaten Karangasem; Subak Yeh Santang, Subak Yeh Anakan dan Subak Air Sumbul di Kabupaten Jembrana. Komponen Tri Hita Karana dinilai dari nilai evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kuesioner terhadap 9 kepala subak (pekaseh), observasi dan dokumentasi ke lokasi subak yang akan diteliti hasil evaluasi menunjukkan bahwa ketercapaian skor Subak Meliling 4.2 berada pada kategori baik; di Subak Gadungan memperoleh skor 4.5 termasuk kategori baik; dan di Subak Sungsang skor 3.9
termasuk kategori baik; di Subak Tohpati skornya 3.8 dengan kategori baik; pada Subak Bugbug skor 3.7 termasuk dalam kategori baik; dan di Subak Selat skor 4.2 dengan kategori baik; sedangkan di Subak Air Santang mendapatkan skor 3.4 dengan kategori cukup baik; di Subak Yeh Anakan skor 4.1 kategori baik; dan di Subak Air Sumbul skor 4,2 dangan kategori baik.
Referensi
Andika, I. P. T., Sudarta, W., & Djelantik, A. A. . W.
S. (2017). Pengetahuan dan Penerapan Tri Hita
Karana dalam Subak untuk Menunjang
Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan
(Kasus Subak Mungkagan, Desa Sembung,
Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung).
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata (Journal of
Agribusiness and Agritourism), 6(2), 211–220.
Budiasa, I. W. (2010). Peran ganda Subak untuk
pertanian berkelanjutan di Provinsi Bali. Jurnal
AGRISEP, 9(2), 153–165.
Dewi, K. P., Oka, S., & Raka, S. (2017). Peran Aspek
Kelembagaan
Subak
dalam
Konteks
Pengendalian Alih Fungsi Lahan. Jurnal
Agribisnis dan Agrowisata, 6(1), 59–66.
Dewi, R. K., & Parining, I. N. (2019). Subak Sadap
Tiris dan Subak Bukan Sadap Tiris di Daerah
Irigasi Kedewatan, Bali. Jurnal Manajemen
Agribisnis, 7(2), 99–103.
Eryani, G. A. P. (2020). Pengelolaan Air Subak
Untuk Konservasi Air. Denpasar: Jayapangus
Press.
Isnian, S. N., Nalefo, L., Mutmainnah, M.,
Rosmawaty, R., & Mardin, M. (2018). Fungsi
Kelembagaan Subak Pada Perkebunan Lada di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan
(Studi Kasus pada Kelembagaan Subak Satu
pada Tanaman Lada Hasil Konversi dari Padi
Sawah di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan). Buletin Penelitian Sosek,
20(2), 72–81.
Laksmi, A. C., Suamba, K., & Ambarawati, A. A.
(2012). Analisis Efisiensi Usahatani Padi
Sawah. Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 1(1),
34–44.
Lestari, P. F. K., Windia, W., & Astiti, N. W. S.
(2015). Penerapan Tri Hita Karana untuk
Keberlanjutan Sistem Subak yang Menjadi
Warisan Budaya Dunia: Kasus Subak Wangaya
Betan,
Kecamatan
Penebel,
Kabupaten
Tabanan. Jurnal Manajemen Agribisnis, 3(1),
22–33.
Mertaningrum, N. L. P. E., Windia, W.-, & Dewi, R.
K.
(2019).
Pengembangan
Agrowisata
Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana Di Subak
Uma Lambing, Kecamatan Abiansemal,
Kabupaten
Badung.
Agribisnis, 7(1), 57–62.
Jurnal
Manajemen
Niswatin, N., & Mahdalena, M. (2016). Nilai
Kearifan Lokal “Subak” Sebagai Modal Sosial
Transmigran Etnis Bali. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma, 7(6), 171–188.
Nugraha, K. D. A., Sumiyati, & Budisanjaya, P. G.
(2019).
Rancang
Bangun
Program
Menggunakan Metode Fuzzy untuk Penilaian
Aspek Palemahan pada Sistem Subak (Studi
Kasus pada Sistem Subak di Kawasan Warisan
Budaya Dunia Catur Angga Batukau). Jurnal
BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian), 7(1),
167–176.
Padmaswari, P.I., N. Sutjipta dan S. A. Putra. 2018.
Peranan Penyuluh Lapangan (PPL) Sebagai
Fasilitator Usahatani Petani di Subak Empas
Buahan Kecamatan Tabanan Kabupaten
Tabanan. Jurnal Agribisnis dan Agrowisata.
Vol 7 No (2). April 2018. Denpasar.
Perda. (2012). perda. PERATURAN DAERAH
PROVINSI BALI NOMOR 9 TAHUN 2012 (pp.
1–13).
Pradipta, A.G., A. S. Pratyasta, dan S. S. Arif.. 2019.
Analisis Kesiapan Modernisasi Daerah Irigasi
Kedung Putri pada Tingkat Sekunder
Menggunakan Metode K-Medoids Clustering.
Jurnal Agritech. Vol 39 No (1). Februari 2019.
Yogyakarta.
Sedana, G. (2010). Analisis swot Subak Padangbulia
berorientasi agribisnis. Jurnal Ilmiah dwijen
Agro, 1(1), 6–17.
Sudarta, W. (2018). Subak Memadukan Nilai
Tradisional Dan Modern. SOCA: Jurnal Sosial
Ekonomi Pertanian, 12(1), 133.
Sumiyati, Sutiarso, L., Windia, I. W., & Sudira, P.
(2011). Aplikasi Analytical Hierarchy Process
(AHP) untuk Penentuan Strategi
Pengembangan Subak. Jurnal Agritech, 31(2),
138–145.
Swandewi, D.A., M. Triagunasih, dan N. Supadma.
2018. Pengaruh Pemupuk Organik, Semi
Organik dan Anorganik terhadap Sifat Fisika,
Kimia Tanah dan Hasil Padi pada Beberapa
Munduk di Subak Mambal. Jurnal
Agroekoteknologi Tropika. Vol 7 No (1).
Januari 2018. Denpasar.
Waskitho, N.T., S. Arif, M. Maksum dan S. Susanto.
2012. Kajian Aset Nirwujud dalam Manajemen
Sistem Irigasi. Jurnal AGRITECH. Vol 32 No
(1). Februari 2012. Yogyakarta.
Windia, W., Sumiyati, & Tika, W. (2018). Laporan
akhir penelitian berbasis kompetensi penilaian
kinerja sistem irigasi subak di bali. Teknik
Pengairan, 1–45.
Yusmita, W., Putra, I. G. S. A., & Budiasa, I. W.
(2017). Manajemen Irigasi Tradisional pada
Sistem Subak Umaya di Desa Talibeng
Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem.
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 6(2), 179
189.
Unduhan
Diterbitkan
Versi
- 2026-02-11 (4)
- 2026-02-10 (3)
- 2026-02-10 (2)
- 2021-09-29 (1)
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Ketentuan Lisensi
Semua artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian) bersifat open access dan dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License (CC BY 4.0). Hal ini berarti siapa pun berhak untuk:
-
Berbagi — menyalin dan mendistribusikan kembali materi dalam bentuk atau format apa pun.
-
Adaptasi — menggubah, mengubah, dan mengembangkan materi untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial.
Namun, hak tersebut diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
-
Atribusi — Anda harus memberikan pengakuan yang sesuai, menyertakan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang wajar, tetapi tidak boleh dengan cara yang menyiratkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.
-
Tanpa pembatasan tambahan — Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau langkah teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang diizinkan oleh lisensi ini.
Dengan mengirimkan artikel ke Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian), penulis menyetujui penerbitan karya mereka di bawah lisensi akses terbuka ini. Hak cipta tetap dimiliki oleh penulis, namun penulis memberikan hak publikasi pertama kepada Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai lisensi CC BY 4.0, silakan kunjungi situs resmi: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/