Optimasi Suhu Pengeringan dan Ketebalan Irisan pada Proses Pengeringan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dengan Response Surface Methodology (RSM)
DOI:
https://doi.org/10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p08Kata Kunci:
temulawak, suhu pengeringan, ketebalan irisan, optimasi, Response Surface MethodologyAbstrak
Proses pengeringan temulawak dipengaruhi oleh dua hal yaitu suhu pengeringan dan ketebalan irisan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum serta mengetahui model matematika untuk memprediksi aktivitas air, kadar air, kadar abu dan nilai Q melalui ResponseSurface Methodology(RSM).Data diolah menggunakansoftwareDesign Expert ® 12. Hasil pengujian dan analisis yang telah dilakukan menghasilkan model linier dan kuadratik pada respon yang diamati. Model linier dihasilkan pada respon kadar air dan kadar abu sedangkan model kuadratik dihasilkan pada respon aktivitas air dan nilai Q. Suhu pengeringan 65,867 ̊C dan ketebalan irisan 3 mm merupakan kombinasi optimum terpilih. Hasil uji verifikasi menunjukkan nilai aktual aktivitas air 0,218 aw, kadar air 9,974%, kadar abu 3,316% dan nilai Q sebesar 31,950kJ/Jam. Nilai desirabilityyang dimiliki kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum sebesar 0.898menandakan sebesar 89.8% kriteria respon yang diharapkan dapat dicapai.
Referensi
Amelia, R. M., Nina, D., Trisno, A., Julyanty, S. W., Rafika, N. F., Yuni, H. A., Wijaya, M. Q. A., & Miftachur, R. M. (2014). Penetapan kadar abu (AOAC 2005). Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Aprilia, A. (2019). Optimasi proses pengeringan laru tepung jagung menggunakan oven dengan Response Surface Methodology (RSM) (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.
Asgar, A., & Musaddad, D. (2006). Optimalisasi cara, suhu, dan lama blansing sebelum pengeringan pada wortel. Jurnal Hortikultura, 16(3), 245–252.
Association of Official Analytical Chemists. (1995). Official methods of analysis of the Association of Official Analytical Chemists (16th ed.). AOAC International.
Association of Official Analytical Chemists. (2005). Official methods of analysis. AOAC International.
Badan Pusat Statistik. (2018). Statistik tanaman biofarmaka Indonesia. BPS.
Badan Standardisasi Nasional. (1992). SNI 01-2891-1992: Cara uji makanan dan minuman. BSN.
Cahyono, B., Huda, M. D. K., & Limantara, L. (2011). Pengaruh proses pengeringan rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap kandungan dan komposisi kurkuminoid. Reaktor, 13(3), 165–171. https://doi.org/10.14710/reaktor.13.3.165-171
Carley, K. M., Kamneva, N. Y., & Reminga, J. (2004). Response surface methodology. Carnegie Mellon University.
Corzo, O., Bracho, N., Vasquez, A., & Pereira, A. (2008). Energy and exergy analysis of thin layer drying of coroba slices. Journal of Food Engineering, 86, 151–161.
Dahtiluan, P. E. I. (2011). Konsep perpindahan panas.
Endrasari, R., Qanytah, & Prayudi, B. (2012). Pengaruh pengeringan terhadap mutu simplisia temulawak di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Dalam Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah (hlm. 435–442).
Faulina, R., Andari, S., & Anggraeni, D. (2011). Response surface methodology (RSM) dan aplikasinya. Dalam Magister of Statistics ITS.
Hepi, D. A., Yulianti, N. L., & Setiyo, Y. (2021). Optimasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan pada proses pengeringan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dengan response surface methodology. Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian), 9(1).
Leviana, W., & Paramita, V. (2017). Pengaruh suhu terhadap kadar air dan aktivitas air dalam bahan pada kunyit (Curcuma longa) dengan alat pengering electrical oven. Metana, 13(2), 37–44.
Manalu, L. P., Tambunan, A. H., & Nelwan, L. O. (2012). Penentuan kondisi proses pengeringan temulawak untuk menghasilkan simplisia standar.
Martiani, E., Murad, & Putra, G. M. D. (2017). Modifikasi dan uji performansi alat pengering hybrid (surya–biomassa) tipe rak. Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem, 5(1), 339–347.
Materia Medika Indonesia. (1979). Materia medika Indonesia (Jilid III). Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Nurmiah, S., Syarief, R., Sukarno, Paranginangin, R., & Nurtama, R. (2013). Aplikasi response surface methodology pada optimalisasi kondisi proses pengolahan alkali treated cottonii (ATC). Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 8(2), 9–22.
Prabudi, M., Nurtama, B., & Purnomo, E. H. (2018). Aplikasi response surface methodology (RSM) dengan historical data pada optimasi proses produksi burger. Jurnal Mutu Pangan, 5(2), 109–115.
Purwanti, M., Jamaluddin, P., & Kadirman. (2017). Penguapan air dan penyusutan irisan ubi kayu selama proses pengeringan menggunakan mesin cabinet dryer.
Pustaka Pertanian Indonesia. (2013). Cara pengolahan simplisia temulawak. http://pustaka-pertanian.blogspot.com/2013/08/cara-pengolahan-simplisia-temulawak.html
Putri, I. F., Hantoro, R., & Risanti, D. D. (2013). Studi eksperimental sistem pengering tenaga surya menggunakan tipe greenhouse dengan kotak kaca. Teknik POMITS, 2(2), 310–315.
Safrina, D., Herera, P. B., & Supriyanto, E. (2021). Model kinetika pengeringan, kadar sari, dan kadar abu simplisia timi (Thymus vulgaris L.) dengan beberapa metode pengeringan manual dan oven. Agrointek, 15(1), 186–195.
Supriyono, S. (2003). Faktor-faktor dalam proses pengeringan. Departemen Pendidikan Nasional.
Syahrul, Syarief, R., Hermanianto, J., & Nurtama, B. (2017). Optimasi proses penggorengan tumpi-tumpi dari ikan bandeng menggunakan response surface methodology. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 20(3), 432–445.
Taufiq, M. (2004). Pengaruh temperatur terhadap laju pengeringan jagung pada pengering konvensional dan fluidized bed.
Verschuuren, G. (2014). Excel 2013 for scientists. Holy Macro Books.
Wasito, H. (2011). Obat tradisional: Kekayaan Indonesia. Graha Ilmu.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Ketentuan Lisensi
Semua artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian) bersifat open access dan dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License (CC BY 4.0). Hal ini berarti siapa pun berhak untuk:
-
Berbagi — menyalin dan mendistribusikan kembali materi dalam bentuk atau format apa pun.
-
Adaptasi — menggubah, mengubah, dan mengembangkan materi untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial.
Namun, hak tersebut diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
-
Atribusi — Anda harus memberikan pengakuan yang sesuai, menyertakan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang wajar, tetapi tidak boleh dengan cara yang menyiratkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.
-
Tanpa pembatasan tambahan — Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau langkah teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang diizinkan oleh lisensi ini.
Dengan mengirimkan artikel ke Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian), penulis menyetujui penerbitan karya mereka di bawah lisensi akses terbuka ini. Hak cipta tetap dimiliki oleh penulis, namun penulis memberikan hak publikasi pertama kepada Jurnal Beta (Biosistem dan Teknik Pertanian).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai lisensi CC BY 4.0, silakan kunjungi situs resmi: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/