KETERBUKAAN GLOBAL DAN DIMENSI KEAMANAN BALI: KAJIAN TRANSNASIONALISME DALAM PERSPEKTIF LIBERALISME
DOI:
https://doi.org/10.24843/KS.2025.v14.i01.p06Keywords:
Transnasionalisme, Keamanan Tradisional, Keamanan Non-Tradisional, Bali, Liberalisme, Pariwisaa BerkelanjutanAbstract
Artikel ini menyelidiki bagaimana dinamika keterbukaan lintas batas atau transnasionalisme membentuk lanskap keamanan Bali, baik pada ranah ancaman tradisional maupun non-tradisional. Bertumpu pada pendekatan kualitatif deskriptif model Miles dan Huberman serta kerangka teori liberalisme hubungan internasional, kajian ini mengungkap bahwa pergerakan masif wisatawan asing, pekerja digital, dan migran lintas negara melahirkan ancaman berlapis yang tidak homogen sifatnya. Pada dimensi tradisional, ancaman berwujud kejahatan terorganisir lintas batas seperti peredaran gelap narkotika, penyalahgunaan dokumen keimigrasian, dan tindakan kriminal berjaringan. Pada dimensi non-tradisional, ancaman mencakup erosi identitas budaya Bali, ketimpangan ekonomi-sosial antara warga lokal dan komunitas asing, serta degradasi ekologis yang dipicu oleh ekspansi industri pariwisata yang tidak terkendali. Studi kasus warga Rusia dan Ukraina di Bali memperjelas bahwa kehadiran komunitas asing dalam skala besar tanpa tata kelola yang memadai memunculkan gesekan sosial dan beban administratif tersendiri. Artikel ini berargumen bahwa pendekatan kolaboratif multipihak yang berakar pada prinsip liberalisme, yakni kerja sama internasional melalui kerangka UNTOC, revitalisasi lembaga adat, dan implementasi pariwisata berkelanjutan, merupakan kunci untuk menjamin ketahanan keamanan Bali di tengah arus globalisasi.
ABSTRACT
This article investigates how transnational dynamics shape Bali's security landscape across both traditional and non-traditional threat dimensions. Drawing on a descriptive qualitative framework informed by Miles and Huberman's analytical model and liberal internationalist theory, the study reveals that large-scale movements of foreign tourists, digital workers, and cross-border migrants produce layered and heterogeneous security challenges. Traditional threats manifest as organized transnational crimes including narcotics trafficking, immigration document abuse, and networked criminal activity. Non-traditional threats encompass the erosion of Balinese cultural identity, socio-economic disparities between local residents and foreign communities, and ecological degradation driven by unchecked tourism expansion. A case study of Russian and Ukrainian nationals in Bali clarifies that the unmanaged presence of large foreign communities generates social friction and significant administrative burdens. The article argues that a multi-actor collaborative approach grounded in liberal principles, specifically international cooperation through the UNTOC framework, revitalization of customary institutions, and sustainable tourism implementation, is essential to ensure Bali's security resilience amid accelerating globalization.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anak Agung Gede Agung Widagda Ari Prabawa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

